Jumat, 13 Januari 2023

Contoh soal asesmen diagnostik kognitif semua jenjang


Contoh soal asesmen diagnostik kognitif semua jenjang

Jenis asesmen diagnostik terbagi menjadi 2 jenis, yaitu diagnostik kognitif dan diagnostik non kognitif. Bagaimana contoh soalnya? Yuk simak contoh soal asesmen diagnostik kognitif semua jenjang.

Asesmen diagnostik kognitif dilaksanakan di awal pembelajaran dan akhir pembelajaran serta dilaksanakan secara berkala setiap pergantian materi. Yang tujuannya yaitu untuk:

Untuk mengetahui Kompetensi siswa

Untuk mencari rata – rata kemampuan siswa di kelas

Untuk memberikan bimbingan tambahan kepada siswa yang kesulitan mengikuti pembelajaran

Berikut ini contoh soal asesmen diagnostik kognitif semua jenjang

Contoh Soal Diagnostik Kognitif jenjang SD

1. Pilihan di bawah ini yang bukan merupakan bagian- bagian akar adalah ….

A. ujung akar

B. rambut akar

C. tudung akar

D. kepala akar

2. Di bawah ini bagian yang berfungsi melindungi akar dari kerusakan saat menembus tanah adalah ….

A. rambut akar

B. tudung akar

C. pangkal akar

D. ujung akar

3. Apa pengertian Predikat di dalam kalimat

A. Kata penghubung antara subjek dan objek

B. Kata yang memiki arti penting

C. Kalaimat pelengkap

D. Kalimat yang memiliki urutan tepat

4. Apa Pengertian Subjek di dalam kalimat

A. Tempat yang dituju

B. Kegiatan atau pekerjaan

C. Keterangan waktu

D. Orang yang melakukan

5. Badan Penyelidik Usaha- Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dibentuk pada tanggal ….

A. 15 april 1945

B. 20 april 1945

C. 29 April 1945

D. 30 April 1945

6. Siapa Ketua BPUPKI yang ditetapkan oleh Gunseikan….

A. Prof. Dr. Mohammad Yamin

B. Ir. Soekarno

C. Prof. Dr. Soepomo

D. Dr. Radjiman Widjodiningrat

Ingin mempelajari lebih dalam tentang Asesmen Diagnostik ?

Sebuah kertas  memiliki ukuran panjang (x + 2)m dan lebar x m. Jika luas tanah tersebut 48 m2, perbandingan antara panjang dan lebarnya adalah ….

A. 2:3

B. 3:2

C. 4:3

D. 3:4

Julian memiliki selembar kertas berbentuk segitiga. Ternyata keliling kertas Julian adalah 66 cm dengan dua sisi lainnya 19 cm dan 28 cm. Pernyataan yang sesuai adalah ….

A. Selembar kertas Andri berbentuk segitiga sama sisi.

B. Selembar kertas Andri berbentuk segitiga sembarang.

C. Selembar kertas Andri berbentuk segitiga sama kaki.

D. Selembar kertas Andri berbentuk segitiga siku-siku.

Contoh Soal Diagnostik Kognitif jenjang SMA

Agnes merupakan siswa kelas 10 SMK Bakti Karya, Sudah dua bulan ini penglihatan Agnes terganggu. Ia tidak bisa melihat dengan jelas tulisan di papan tulis yang berjarak 2 m dari tempat duduknya. Setelah diperiksa, ternyata Agnes hanya mampu melihat benda maksimal 150 cm di depannya. Agar Agnes bisa melihat dengan jelas tulisan di papan tulis tersebut, ia harus menggunakan kacamata berlensa cekung dengan kekuatan ….

A. -0,667 D

B. -0,5 D

C. -1,5 D

D. 0,5 D

E. 1,25 D

Tono sedang mengamati ukuran sel bawang merah menggunakan mikroskop. Panjang fokus lensa objektif mikroskop yang digunakan Tono adalah 1 cm. Agar terlihat jelas, preparat sel bawang merahnya diletakkan 1,5 cm di bawah lensa objektif. Jika panjang fokus lensa okulernya 2,5 cm dan pengamatan dilakukan dengan akomodasi maksimum, perbesaran yang dihasilkan adalah ….

A. 15 kali

B. 10 kali

C. 35 kali

D. 30 kali

E. 22 kali

 Contoh Soal Asesmen Diagnostik Non Kognitif semua jenjang

Setelah artikel sebelumnya tentang contoh soal asesmen diagnostik kognitif, berikut ini akan membahas secara lengkap mengenai contoh soal asesmen diagnostik non kognitif.

Asesmen diagnostik kognitif dilaksanakan di awal pembelajaran yang dilakukan secara berkala untuk dapat mendapatkan data yang lebih banyak dari siswa.  Yang tujuannya yaitu untuk:

Mengetahui kondisi psikologi dan sosial emosi siswa

Untuk mengetahui aktivitas selama belajar dirumah

Mengetahui situasi dan kondisi keluarga siswa

Mengetahui latar belakang pergaulan siswa

Mengetahui gaya belajar, karakter bakat dan minat siswa

Contoh soal asesmen diagnostik non kognitif untuk semua jenjang hampir sama baik itu jenjang SD, SMP, hingga SMA. Karena tujuan asesmen ini adalah untuk mengetahui karakteristik siswa, atau kelebihan dan kekurangan siswa.

Berikut ini contoh soal asesmen non kognitif

Tentang Gaya Belajar

Sebelum mengerjakan sesuatu, saya biasanya…

A. membaca instruksinya terlebih dahulu

B. mendengarkan instruksi dari orang lain, baru kemudian mengerjakan

C. langsung melakukan uji coba

Ketika lupa sesuatu, biasanya saya akan…

A. berusaha mengingatnya dari gambaran bentuk, warna, atau cirinya

B. berusaha mengingatnya dari ciri-ciri suaranya

C. berusaha mengingatnya dari apa yang dilakukan dan penggunaannya

Hal yang paling bisa saya ingat dari seseorang adalah…

A. ekspresi wajahnya yang menawan

B. suaranya yang khas

C. gerakan tubuhnya yang memukau

Ketika saya mengoperasikan peralatan baru, saya umumnya…

A. membaca petunjuknya terlebih dahulu

B. mendengarkan penjelasan dari seseorang yang sudah menggunakan sebelumnya

C. saya langsung menggunakannya, saya bisa belajar ketika menggunakannya

Ketika saya membutuhkan petunjuk perjalanan, saya biasanya…

A. meminta petunjuk lisan

B. mengikuti kehendak hati dan mungkin menggunakan kompas

C. melihat peta

Ingin mempelajari lebih dalam tentang Asesmen Diagnostik ?

 Tentang Sosial Emosi Siswa

Tidak ada jawaban benar atau salah, silahkan pilih salah satu diantara pilihan A dan B

A. Saya suka merencanakan dan mengatur detail-detail dari setiap pekerjaan yang harus saya lakukan.

B. Saya suka mengikuti petunjuk-petunjuk dan melakukan apa saja yang diharapkan orang dari diri saya.

A. Saya ingin orang-orang memperhatikan dan memberikan komentar mengenai penampilan saya dimuka umum.

B. Saya suka membaca riwayat hidup orang-orang besar.

 A. Saya suka mengelakkan keadaan-keadaan dimana saya diharapkan akan berlaku secara konvensional (kebiasaan umum)

B. Saya suka membaca riwayat hidup orang-orang besar

A. Saya ingin menjadi seorang ahli yang diakui dalam salah satu pekerjaan, jabatan atau bidang khusus.

B. Saya ingin agar pekerjaan saya diatur dan direncanakan sebelum dimulai.

Tentang Kondisi Keluarga

Menurutmu, apa sifat terpenting dari orangtua yang baik?

Apa yang membuat keluarga bahagia?

Dalam skala 1 sampai 10, seberapa ketat Ibu dan Bapak dalam keluarga ini? Berapa angka ideal menurutmu?

Apa peraturan paling penting dalam keluargamu?

Kamu akan menjadi orangtua yang seperti apa?

Apa saja hal baik tentang memiliki saudara kandung? Apa hal buruknya?

Demikian informasi mengenai contoh soal asesmen diagnostik non kognitif semuaa jenjang. Semoga dapat bermanfaat.

Bentuk instrumen Asesmen Diagnostik yang Dapat Guru Gunakan

 


Bentuk instrumen Asesmen Diagnostik yang Dapat Guru Gunakan

Guru perlu menggunakan penilaian diagnostik standar untuk dapat menggali data lebih mendalam mengenai kelebihan dan kekurangan siswa. Dengan bentuk instrumen asesmen diagnostik yang ada.

Apa saja bentuknya? Yuk simak informasi berikut ini:

Survei dan Kuesioner

Metode yang pertama adalah metode yang  paling umum untuk melakukan penilaian diagnostik. Guru dapat membuat survei/kuesioner online melalui Google form misalnya, dan meminta siswa untuk mengisinya di awal pembelajaran.

Atau, guru dapat menggunakan fitur undangan email untuk mengirimkan survei kepada siswa terlebih dahulu.

Pretest

Yang kedua dapat berupa pretest. Pre-test adalah alat penilaian yang bukan untuk dinilai yang digunakan untuk menentukan seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki siswa tentang mata pelajaran tersebut. 

Untuk bentuk pre-tesnya biasanya siswa diminta untuk mengisi pertanyaan rumpang atau pilihan ganda.

Seluruh isinya adalah untuk menguji pengetahuan atau mengetahui karakteristik siswa untuk soal diagnostik non kognitif siswa yang ada sebelum mereka memulai topik atau unit pembelajaran baru.

Daftar periksa (Cheklist)

Bentuk instrumen asesmen diagnostik selanjutnya guru dapat menggunakan daftar periksa adalah alat sederhana yang menguraikan kriteria penilaian khusus untuk evaluasi diagnostik. Daftar periksa sangat kolaboratif ini dapat digunakan bagi siswa untuk dapat mengevaluasi diri sendiri, guru juga dimudahkan untuk mengakomodasi data nya.

Guru perlu menggunakan penilaian diagnostik standar untuk dapat menggali data lebih mendalam mengenai kelebihan dan kekurangan siswa. Dengan bentuk instrumen asesmen diagnostik yang ada.

Apa saja bentuknya? Yuk simak informasi berikut ini:

Survei dan Kuesioner

Metode yang pertama adalah metode yang  paling umum untuk melakukan penilaian diagnostik. Guru dapat membuat survei/kuesioner online melalui Google form misalnya, dan meminta siswa untuk mengisinya di awal pembelajaran.

Atau, guru dapat menggunakan fitur undangan email untuk mengirimkan survei kepada siswa terlebih dahulu.

Pretest

Yang kedua dapat berupa pretest. Pre-test adalah alat penilaian yang bukan untuk dinilai yang digunakan untuk menentukan seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki siswa tentang mata pelajaran tersebut. 

Untuk bentuk pre-tesnya biasanya siswa diminta untuk mengisi pertanyaan rumpang atau pilihan ganda.

Seluruh isinya adalah untuk menguji pengetahuan atau mengetahui karakteristik siswa untuk soal diagnostik non kognitif siswa yang ada sebelum mereka memulai topik atau unit pembelajaran baru.

Daftar periksa (Cheklist)

Bentuk instrumen asesmen diagnostik selanjutnya guru dapat menggunakan daftar periksa adalah alat sederhana yang menguraikan kriteria penilaian khusus untuk evaluasi diagnostik. Daftar periksa sangat kolaboratif ini dapat digunakan bagi siswa untuk dapat mengevaluasi diri sendiri, guru juga dimudahkan untuk mengakomodasi data nya.

Guru menilai setiap siswa berdasarkan kriteria yang berbeda dalam daftar. Pada akhirnya, mereka menganalisis hasil dan menggunakannya untuk mengukur tingkat pengetahuan siswa tentang materi pelajaran. Bentuk instrumen ini cocok untuk mengukur asesmen diagnostik non kognitif, untuk melihat karakteristik siswa.

Metode yang digunakan guru untuk mengetahui bagaimana kemajuan siswa dalam bidang akademik dasar seperti matematika, membaca, menulis, dan mengeja. Meskipun sebagian besar digunakan dalam evaluasi formatif, ia juga memiliki tempat dalam penilaian diagnostik.

Anda dapat menggunakan slip masuk untuk mengumpulkan informasi cepat dari siswa. Guru dapat mengajukan beberapa pertanyaan sementara siswa menuliskan tanggapan mereka pada slip. 

Setelah latihan, guru mengambil slip, mengevaluasi tanggapan, dan membuat perubahan yang diperlukan pada tujuan pembelajaran.

Demikian informasi mengenai  Bentuk Instrumen Asesmen Diagnostik yang Dapat Guru Gunakan, semoga dapat bermanfaat bagi Anda dan dapat menambah wawasan Anda.

Jenis jenis Asesmen Diagnostik Beserta contohnya

 


Jenis jenis Asesmen Diagnostik Beserta contohnya

Asesmen diagnostik adalah upaya penilaian yang dilakukan untuk dapat mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan siswa yang dilaksanakan sebelum proses pembelajaran dilaksanakan. Terdapat jenis- jenis asesmen diagnostik yang perlu guru tahu.

Asesmen diagnostik merupakan metode penggalian data awal peserta didik untuk memperoleh informasi berupa pemahaman, kekuatan, kelemahan, pengetahuan dan keterampilan, serta karakteristik tingkah laku peserta didik.

Jenis- jenis asesmen diagnostik  terbagi menjadi 2 yaitu,  Asesmen diagnostik kognitif dan asesmen diagnostik non kognitif. Yuk simak informasi selengkapnya berikut ini:

Asesmen Diagnostik Kognitif

Asesmen diagnostik kognitif adalah asesmen yang dilakukan di awal dan akhir pembelajaran untuk memantau sejauh mana peserta didik bisa memahami materi pembelajaran. Kegiatan asesmen semacam ini harus dilakukan secara rutin sebelum Bapak/Ibu memulai dan setelah mengakhiri pembelajaran atau biasa disebut asesmen formatif. Tidak hanya itu, asesmen kognitif juga bisa dilakukan di pertengahan atau akhir semester dalam bentuk ujian atau biasa disebut asesmen sumatif.

Guru melakukan asesmen diagnosis kognitif untuk menyesuaikan tingkat pembelajaran dengan kemampuan siswa, bukan untuk mengejar target kurikulum. Asesmen diagnostik kognitif dapat dilaksanakan secara rutin yang disebut asesmen diagnostik kognitif berkala, pada awal pembelajaran, akhir setelah guru selesai menjelaskan dan membahas topik, dan waktu lain. Asesmen Diagnostik bisa berupa Asesmen Formatif maupun Asesmen Sumatif.

Tujuan Asesmen Diagnostik Kognitif

Berikut ini beberapa tujuan dari asesmen diagnostik kognitif yang perlu Anda ketahui, yaitu antara lain:

Mengidentifikasi capaian kompetensi siswa

Menyesuaikan pembelajaran di kelas dengan kompetensi rata-rata siswa

Memberikan kelas remedial atau pelajaran tambahan kepada siswa yang kompetensinya di bawah rata-rata

Jenis tes Asesmen diagnostik kognitif  untuk semua jenjang yaitu meliputi mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, PPKN, Sejarah Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial dan yang lain sebagainya.

 Contoh soalnya

Soal Diagnostik Bahasa Indonesia Jenjang SD

1. Apa Pengertian Subjek di dalam kalimat

A. Tempat yang dituju

B. Kegiatan atau pekerjaan

C. Keterangan waktu

D. Orang yang melakukan

Jawaban D

2. Apa yang disebut dengan Tokoh dalam cerita

A. Pemeran jahat

B. Pemeran utama

C. Pemeran dalam cerita

D. Pemeran pengganti

Jawaban C

Ingin mempelajari lebih dalam tentang Asesmen Diagnostik ?

3. Kalimat intransitive adalah

A. Kalimat yang panjang

B. Kalimat yang tidak memerlukan Objek

C. Kalimat yang sempurna

D. Kalimat yang memiliki keterangan

Jawaban B

Silahkan Anda dapat menyesuaikang dengan mata pelajaran, serta jenjang pendidikannya untuk membuat asesmen diagnostik kognitif.

Demikian pemahaman mengenai asesmen diagnostik kognitif, selanjutnya akan membahas mengenai jenis – jenis asesmen diagnostik lainnya yaitu non kognitif

Asesmen Diagnostik Non Kognitif

Asesmen diagnostik non-kognitif adalah asesmen yang dilakukan untuk mengetahui kondisi psikologi, emosi, dan sosial peserta didik. Artinya, asesmen ini lebih mengarah pada kondisi personal peserta didik. Tentu Bapak/Ibu memahami betul bahwa kondisi personal peserta didik akan mempengaruhi pencapaiannya di sekolah. Misal, peserta didik yang tidak merasa nyaman di rumah karena masalah keluarga, pasti ia juga sulit untuk fokus saat di sekolah.

Tujuan Asesmen diagnostik non kognitif

Asesmen diagnostik non-kognitif di awal pembelajaran memiliki tujuan untuk menggali hal-hal seperti berikut ini:

Mengetahui kesejahteraan psikologi dan sosial emosi siswa

Mengetahui aktivitas selama belajar di rumah

Mengetahui kondisi keluarga siswa

Mengetahui latar belakang pergaulan siswa

Mengetahui gaya belajar, karakter serta minat siswa

Untuk jenis Jenis tes Asesmen diagnostik non kognitif   yaitu seperti Diagnostik gaya belajar siswa, sosial emosi siswa, kondisi keluarga siswa, aktivitas belajar siswa di rumah, diagnostik minat dan bakat siswa, serta diagnostik pergaulan siswa.

Contoh soalnya

Soal Diagnostik Gaya Belajar Siswa

1. Ketika berbicara, biasanya saya paling suka jika…

A. Berbicara secara perlahan dan jelas, tapi tidak suka jika mendengarkan terlalu lama

B. Mendengarkan orang lain bicara terlebih dahulu, baru kemudian saya yang berbicara

C. Menggunakan bahasa tubuh dan gerakan yang banyak Halaman selanjutnya

 2. Sebelum mengerjakan sesuatu, saya biasanya…

A. Membaca instruksinya terlebih dahulu

B. Mendengarkan instruksi dari orang lain, baru kemudian mengerjakan

C. Langsung melakukan uji coba

3. Kemampuan yang bisa dan paling saya sukai adalah…

A. Menggambar, melukis, atau mewarnai

B. Bernyanyi atau bermain alat musik

C. Menari atau beladiri

Asesmen ini tidak untuk mencari jawaban benar atau salah, melainkan untuk memetakan karakteristik peserta didik dalam hal ini contoh untuk mengetahui gaya belajar siswa.

Demikian informasi mengenai Jenis- Jenis Asesmen Diagnostik Beserta Contohnya, semoga dapat bermanfaat bagi Anda dan dapat meningkatkan kompetensi anda mengenai jenis jenis asesmen diagostik.

Manfaat Menggunakan Classpoint Untuk Pembelajaran



Manfaat Menggunakan Classpoint Untuk Pembelajaran

Pembelajaran pada saat ini sangat memerlukan peran dari media pembelajaran. Hal tersebut dikarenakan peserta didik akan cepat bosan jika guru hanya memberikan pembelajaran konvesional. Pemanfaatan fitur classpoint akan membuat pembelajaran lebih menyenangkan.

Pemanfaatan fitur classpoint tersebut dapat digunakan untuk membuat media pembelajaran yang dapat meningkatkan minat dari peserta didik tersebut. Hal tersebut dikarenakan dalam fitur classpoint terdapat suatu fitur yang membuat penyampaian materi menjadi interaktif.

Penyampaian materi yang interaktif tersebut dapat meningkatkan minat dari peserta didik untuk melakukan pembelajaran. Jika minat dari peserta didik tersebut telah meningkat maka pembelajaran akan berjalan dengan mudah.

Dengan memanfaatkan fitur dari classpoin tersebut maka penyampaian materi juga akan menjadi lebih mudah untuk disampaikan kepada peserta didik. Hal tersebut membuat guru akan menjadi lebih diuntungkan dalam melakukan pembelajaran.

Oleh sebab itu beberapa fitur dari classpoint juga perlu untuk dipelajari oleh guru. Hal tersebut dapat dimanfaatkan oleh guru untuk membuat pembelajaran lebih menarik dan juga interaktif. Beberapa fitur classpoint yang dapat digunakan dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:

Pada classpoint terdapat fitur kode kelas. Fitur code kelas tersebut dapat dibagikan untuk para siswa. Hal tersebut dapat digunakan untuk mengikuti pembelajaran yang telah dibuat oleh guru tersebut.

Dengan adanya kode kelas tersbeut, siswa juga tidak perlu untuk mendownload aplikasi. Siswa dapat langsung masuk pada materi yang telah dibuat oleh guru itu sendiri. Dengan demikian hal tersebut akan membuat pembelajaran menjadi lebih menarik.

Fitur Anotasi

Dalam menggunakan fitur classpoint pada power point, guru juga dapat memanfaatkan fitur anotasi pada aplikasi classpoint. Dengan fitur ini akan membuat guur lebih mudah untuk menjelaskan materi pada saat pembelajaran.

Dengan fitur anotasi ini akan membuat pembelajaran menjadi lebih interaktif karena fitur ini juga akan membuat peserta didik dan guru menjadi sering berkomunikasi dalam pembelajaran yang dilakukan di kelas.

 Laser Pointer

Laser pointer ini dapat berfungsi menjadi kursor pada tiap slide. Hal yang membedakan dengan kursor biasa adalah pada laser pointer ini akan tampilan akan terlihat menjadi lebih jelas daripada kursor biasa.

Dengan menggunakan fitur ini, guru akan mendapatkan kemudahan dalam menjelaskan poin poin penting dalam pembelajaran. Oleh sebab itu laser pointer ini menjadi hal yang dapat mempudahkan guru dalam menjelaskan materi.

Highligter

Dengan menggunakan fitur highliter ini akan dapat dimanfaatkan untuk memperjelas materi pelajaran baik untuk kalimat dan juga layar slide. Sama seperti fitur sebelumnya hal ini akan mempermudah guru dalam menerangkan pembelajaran.

Erase

Fitur erase ini akan berfungsi untuk menghapus dan juga menghilangkan tulisan dan juga kalimat pada file yang sedang dibuat. Dengan fitur ini guru menjadi tidak perlu takut dalam mengetikan dan juga menyisipkan gambar dikarenakan beberapa kesalahan tersebut dapat dihapus.

White Board

Fitur ini dapat dimanfaatkan oleh guru sebagai media tambahan dalam menerangkan materi pembelajaran. Hal tersebut dapat dimanfaatkan seperti layaknya papan tulis untuk melakukan pembelajaran dengan power point.

Beberapa hal diatas adalah beberapa fitur fitur dalam classpoint yang dapat dimanfaatkan oleh guru dalam memberikan materi. Dengan demikian pembelajaran akan dapat lebih mudah dilakukan menggunakan fitur fitur tersebut.


Keunggulan Classpoint Untuk Media Pembelajaran



 Keunggulan Classpoint Untuk Media Pembelajaran

Pada saat ini pembelajaran telah mengalami perkembangan yang signifikan. Perkembangan tersebut mengakibatkan banyaknya media pembelajaran yang juga berubah pada saat ini. Dalam hal tersebut terdapat keunggulan classpoint untuk media pembelajaran.

Keunggulan classpoint dalam media pembelajaran tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru. Hal tersebut juga dikarenakan penggunaan media pembelajaran classpoint yang efektif untuk pembelajaran.

Pembelajaran secara konvesional sering membuat peserta didik menjadi bosan dalam pembelajaran. Untuk itulah guru perlu mencari alternatif lain yang dapat digunakan untuk pembelajaran tersebut. Salah satu alternatif tersebut adalah menggunakan media pembelajaran.

Penggunaan media pembelajaran dapat meningkatkan motivasi belajar dari peserta didik. Oleh sebab itu guru perlu menggunakan media pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dari peserta didik tersebut.

Dalam hal tersebut, penggunaan classpoint dapat digunakan sebagai salah satu media pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru. Classpoint tersebut merupakan suatu aplikasi yang telah terintregasi dengan powerpoint.

Dengan demikian, penggunaan powerpoint tersebut dapat digunakan bersamaan dengan penggunaan classpoint tersebut. Dalam hal ini penggunaan powerpoint beserta classpoint tersebut dapat digunakan sebagai media pembelajaran.

Untuk penggunaan classpoint tersebut, terdapat beberapa keunggulan yang akan dirasakan oleh guru maupun peserta didik. Keunggulan dari aplikasi tersebut adalah sebagai berikut:

1. Memiliki banyak fitur

Aplikasi classpoint dirancang dengan banyak fitur seperti anotasi, kelas kode, laser pointer dan lain sebagainya. Hal tersebut tentu akan memudahkan pembelajaran yang menggunakan media pembelajaran.

Dengan penggunaan beberapa fitur tersebut juga akan membuat suatu media pembelajaran menjadi lebih efektif dan juga efisien.

2. Mudah digunakan

Pada hal ini penggunaan aplikasi tersebut tergolong mudah digunakan. Guru dapat mempelajari beberapa fitur dalam classpoint untuk menggunakan aplikasi tersebut sebagai media pembelajaran yang dapat digunakan untuk menerangkan materi.

Hal tersebut juga memberikan beberapa tampilan yang mudah dipahami oleh guru untuk membuat suatu media pembelajaran menjadi lebih interaktif dan juga menarik. Dengan demikian fitur fitur tersebut akan mudah untuk dipelajari.

 3. Terintregasi dengan powerpoint

Salah satu keunggulan dari classpoint tersebut adalah terlah terintregasi dengan powerpoint. Hal tersebut akan membuat suatu pembelajaran menggunakan powerpoint akan menjadi mudah untuk digunakan.

Dengan demikian adanya aplikasi tersebut dapat berjalan bersama dengan powerpoint untuk dapat digunakan dalam pembelajaran.

4. Membuat media menjadi lebih interaktif

Keunggulan dari classpoint lainya adalah dapat membuat media pembelajaran menjadi lebih interaktif. Hal tersebut akan dapat dimanfaatkan oleh guru dalam membuat beberapa media pembelajaran yang efektif.

Salah satu dari penerapan tersebut adalah dengan membuat suatu powerpoint menjadi quiz interaktif. Hal tersebut dapat dibuat menggunakan classpoint dan dapat membuat pembelajaran menjadi lebih interaktif.

Beberapa hal diatas merupakan beberapa keunggulan dengan menggunakan classpoint. Dengan memanfaatkan aplikasi tersebut guru dapat dengan mudah membuat suatu media pembelajaran yang efektif dan efisien.

Dengan adanya media pembelajaran yang interaktif tersebut, akan membuat suatu motivasi dan semangat belajar dari peserta didik menjadi meningkat. Selain itu, pembelajaran juga dapat dilakukan dengan interaktif.

Dengan aplikasi tersebut, peserta didik juga akan didorong untuk lebih aktif dalam pembelajaran. Hal ini akan membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna dan menjadi efektif. Dengan hal tersebut guru akan lebih mudah dalam menyampaikan materi.

Demikian informasi mengenai Keunggulan Classpoint Untuk Media Pembelajaran. Semoga dapat menambah informasi.

Pada saat ini pembelajaran telah mengalami perkembangan yang signifikan. Perkembangan tersebut mengakibatkan banyaknya media pembelajaran yang juga berubah pada saat ini. Dalam hal tersebut terdapat keunggulan classpoint untuk media pembelajaran.

Keunggulan classpoint dalam media pembelajaran tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru. Hal tersebut juga dikarenakan penggunaan media pembelajaran classpoint yang efektif untuk pembelajaran.

Pembelajaran secara konvesional sering membuat peserta didik menjadi bosan dalam pembelajaran. Untuk itulah guru perlu mencari alternatif lain yang dapat digunakan untuk pembelajaran tersebut. Salah satu alternatif tersebut adalah menggunakan media pembelajaran.


Media Interaktif Classpoint Untuk Pembelajaran

 


Media Interaktif Classpoint Untuk Pembelajaran

Pada era ini penggunaan teknologi telah menjadi hal yang sangat umum digunakan. Hal tersebut akan mempermudah pekerjaan yang dilakukan. Tak terkecuali menggunakan classpoint sebagai pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran. Guru harus tau cara menggunakan classpoint untuk pembelajaran.

Cara menggunakan classpoint untuk pembelajaran ini sangat penting untuk dikuasai oleh guru. Hal tersebut dikarenakan penggunaan media pembelajaran tersebut dapat meningkatkan minat belajar dari peserta didik.

Dengan menggunakan classpoint, pembelajaran akan berbeda dengan biasanya. Pembelajaran akan menjadi lebih interaktif dan minat peserta didik untuk belajar akan lebih meningkat jika menggunakan media tersebut.

Pembelajaran yang memanfaatkan media teknologi dalam pembelajaran dikenal dapat menarik perhatian peserta didik untuk melakukan pembelajaran. Hal tersebut dikarenakan pembelajaran yang memanfaatkan media akan menjadi lebih menarik.

Classpoint sendiri merupakan suatu perangkat lunak atau aplikasi yang dikembangkan oleh perusahaan INKOE. Aplikasi tersebut telah terintregasi dengan power point. Dengan hal tersebut, aplikasi tersebut dapat memberikan sejumlah fitur untuk membuat materi pembelajaran yang menarik dan juga dapat meningkatkan perhatian peserta didik ke materi pembelajaran.

Untuk penggunaanya, hal yang pertama dapat dilakukan oleh guru adalah mendownload aplikasi classpoint pada website resmi aplikasi classpoint yaitu https://classpoint.io. Setelah mendownload aplikasi tersebut maka hal berikutnya yang dapat digunakan adalah mengakses aplikasi tersebut.

Setelah aplikasi classpoint tersebut telah dibuka, maka pengguna perlu daftar atau sign in untuk menggunakan aplikasi tersebut. Untuk pendaftaran terdapat beberapa hal yang perlu diisi seperti nama, organisasi dan juga asal sekolah. Selain itu juga perlu mengisi institusi pendidikan seperti SMP, SMA atau Perguruan tinggi.

Selain hal tersebut juga perlu mengisi alamat email dan juga password yang digunakan untuk mengakses classpoint tersebut. Setelah semua hal tersebut telah diisi maka hal berikutnya adalah klik next dan pengguna akan mendapatkan kode verifikasi yang akan dikirimkan melalui email.

Untuk hal berikutnya, dalam memanfaatkan hal tersebut, guru dapat menggunakan classpoint tersebut untuk membuat suatu pembelajaran lebih interaktif. Hal tersebut adalah dengan membuat power point dan membuat power point tersebut menjadi quiz interaktif.

Guru dapat mengolah power point mereka dan menggunakan classpoint tersebut sebagai suatu fitur dalam membuat suatu quiz yang dapat digunakan untuk pembelajaran yang akan digunakan untuk peserta didik.

Selain itu guru juga dapat memanfaatkan beberapa fitur yang telah disediakan oleh claspoint. Cara menggunakan tersebut adalah tergantung dari kreatifitas dari guru dalam mengelola pembelajaran tersebut.

Dengan memanfaatkan fitur tersebut guru juga dapat membuat suatu pembelajaran menjadi lebih menarik dan inovatif. Hal tersebut juga dapat membuat suatu penyampaian materi menjadi lebih menarik dan efektif.

Pemanfaatan aplikasi tersebut dapat digunakan guru untuk menyampaikan materi pembelajaran dalam power point menjadi lebih menarik. Hal ini dapat digunakan …

Hal tersebut akan membuat suatu power point menjadi lebih berbeda dengan yang biasanya dan membuat suatu pembelajaran menjadi lebih interaktif. Penggunaan dengan cara memanfaatkan fitur tersebut juga tergolong menjadi lebih efektif dari biasanya.

Cara tersebut dapat dicoba oleh guru untuk meningkatkan minat belajar dari peserta didik untuk dapat lebih aktif dalam pembelajaran. Demikian informasi mengenai Cara Menggunakan Classpoint Untuk Pembelajaran. Semoga dapat menambah informasi dan referensi terkait classpoint.

Cara Menggunakan Classpoint Untuk Pembelajaran

 


Cara Menggunakan Classpoint Untuk Pembelajaran 

Pada era ini penggunaan teknologi telah menjadi hal yang sangat umum digunakan. Hal tersebut akan mempermudah pekerjaan yang dilakukan. Tak terkecuali menggunakan class point sebagai pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran. Guru harus mengetahui  cara menggunakan class point untuk pembelajaran.

Cara menggunakan class point untuk pembelajaran ini sangat penting untuk dikuasai oleh guru. 

Hal tersebut dikarenakan penggunaan media pembelajaran tersebut dapat meningkatkan minat belajar dari peserta didik.

Dengan menggunakan class point, pembelajaran akan berbeda dengan biasanya. Pembelajaran akan menjadi lebih interaktif dan minat peserta didik untuk belajar akan lebih meningkat jika menggunakan media tersebut.

Pembelajaran yang memanfaatkan media teknologi dalam pembelajaran dikenal dapat menarik perhatian peserta didik untuk melakukan pembelajaran. Hal tersebut dikarenakan pembelajaran yang memanfaatkan media akan menjadi lebih menarik.

Classpoint sendiri merupakan suatu perangkat lunak atau aplikasi yang dikembangkan oleh perusahaan INKOE. Aplikasi tersebut telah terintregasi dengan power point. Dengan hal tersebut, aplikasi tersebut dapat memberikan sejumlah fitur untuk membuat materi pembelajaran yang menarik dan juga dapat meningkatkan perhatian peserta didik ke materi pembelajaran.

Untuk penggunaanya, hal yang pertama dapat dilakukan oleh guru adalah mendownload aplikasi classpoint pada website resmi aplikasi classpoint yaitu https://classpoint.io. Setelah mendownload aplikasi tersebut maka hal berikutnya yang dapat digunakan adalah mengakses aplikasi tersebut.

Setelah aplikasi classpoint tersebut telah dibuka, maka pengguna perlu daftar atau sign in untuk menggunakan aplikasi tersebut. Untuk pendaftaran terdapat beberapa hal yang perlu diisi seperti nama, organisasi dan juga asal sekolah. Selain itu juga perlu mengisi institusi pendidikan seperti SMP, SMA atau Perguruan tinggi.

Selain hal tersebut juga perlu mengisi alamat email dan juga password yang digunakan untuk mengakses classpoint tersebut. Setelah semua hal tersebut telah diisi maka hal berikutnya adalah klik next dan pengguna akan mendapatkan kode verifikasi yang akan dikirimkan melalui email.

Untuk hal berikutnya, dalam memanfaatkan hal tersebut, guru dapat menggunakan classpoint tersebut untuk membuat suatu pembelajaran lebih interaktif. Hal tersebut adalah dengan membuat power point dan membuat power point tersebut menjadi quiz interaktif.

Guru dapat mengolah power point mereka dan menggunakan classpoint tersebut sebagai suatu fitur dalam membuat suatu quiz yang dapat digunakan untuk pembelajaran yang akan digunakan untuk peserta didik.

Selain itu guru juga dapat memanfaatkan beberapa fitur yang telah disediakan oleh claspoint. Cara menggunakan tersebut adalah tergantung dari kreatifitas dari guru dalam mengelola pembelajaran tersebut.

Dengan memanfaatkan fitur tersebut guru juga dapat membuat suatu pembelajaran menjadi lebih menarik dan inovatif. Hal tersebut juga dapat membuat suatu penyampaian materi menjadi lebih menarik dan efektif.

Pemanfaatan aplikasi tersebut dapat digunakan guru untuk menyampaikan materi pembelajaran dalam power point menjadi lebih menarik. Hal ini dapat digunakan dengan memanfaatkan beberapa fitur seperti Class code, Fitur anotasi, Laser Pointer, dan juga pulpen digital.

Hal tersebut akan membuat suatu power point menjadi lebih berbeda dengan yang biasanya dan membuat suatu pembelajaran menjadi lebih interaktif. Penggunaan dengan cara memanfaatkan fitur tersebut juga tergolong menjadi lebih efektif dari biasanya.

Cara tersebut dapat dicoba oleh guru untuk meningkatkan minat belajar dari peserta didik untuk dapat lebih aktif dalam pembelajaran. Demikian informasi mengenai Cara Menggunakan Classpoint Untuk Pembelajaran. Semoga dapat menambah informasi dan referensi terkait classpoint.

Jumat, 02 Desember 2022

*"E-Rapor Kurikulum Merdeka"*

*"E-Rapor Kurikulum Merdeka"*

*#Muatan Rapor Kurikulum Merdeka*
- Rapor Intrakurikuler
- Rapor P5

-----

*#Peran Pengguna di Satuan Pendidikan*
a. Administrator:
- Mendaftarkan Webservice
- Mengambil data dapodik
- Membuat data user
- Mengecek dan menyesuaikan referensi data dari dapodik
- Membuat referensi Lokal (Pembelajaran, mapping rapor, penyesuaian logo sekolah dan pemda, TTD Kepsek dan TTD Wali Kelas, input tanggal rapor)
- Menyesuaikan referensi  Tema, Dimensi, elemen-subelemen dan raeget capaian P5
- Menginput data projek dan deskripsi projek serta tema, elemen dan sub elemen tiap projek
- Menyusun Kelompok/Kelas dan Fasilitator Projek
- Cetak Leger dan Rapor Intra dan Rapor Projek
- Backup Restore Data e-Rapor

b. Guru:
- Menginput TP yang telah disusun
- Menyiapkan hasil penilaian
- Mengolah dan kirim Nilai akhir (Cukup mengisi 1 nilai saja)
- Proses Deskripsi (Deskripsi didapatkan dari pemilihan TP mana yang sudah tercapai dan belum tercapai)
- Input Capaian dan Catatan Projek P5
- Input Nilai Ekstrakurikuler

c. Wali Kelas:
- Edit data siswa
- Input Rekap Kehadiran
- Input Nilai Ekstrakurikuler
- Input kenaikan kelas
- Cetak Leger dan Rapor Intra dan Rapor Projek

Sabtu, 19 November 2022

Teknik Penilaian dalam Kurikulum Merdeka

Peran penilaian dalam sebuah proses pembelajaran adalah untuk dapat mengetahui perkembangan siswa, apakah sudah sesuai dengan tujuan pembelajaran atau belum. Untuk mengetahui hal itu digunakan  yang sesuai dengan tujuan diadakannya penilaian.

Apakah Anda sudah memahami apa saja teknik penilaian dalam kurikulum merdeka? Jika belum, tepat sekali dalam artikel ini akan dibahas secara gamblang tentang teknik penilaian. Yuk simak selengkapnya.

1. Observasi

Teknik penilaian kurikulum merdeka yang pertama ini merupakan suatu rangkaian penilaian yang dilakukan dengan pengamatan secara sistematis dan berkesinambungan terhadap sikap atau perilaku peserta didik yang muncul selama proses pembelajaran berlangsung.

Penilaian peserta didik yang dilakukan secara berkesinambungan melalui pengamatan perilaku yang diamati secara berkala baik prang guru maupun oleh antar teman.


Peran penilaian dalam sebuah proses pembelajaran adalah untuk dapat mengetahui perkembangan siswa, apakah sudah sesuai dengan tujuan pembelajaran atau belum. Untuk mengetahui hal itu digunakan teknik penilaian kurikulum merdeka yang sesuai dengan tujuan diadakannya penilaian.

Apakah Anda sudah memahami apa saja teknik penilaian dalam kurikulum merdeka? Jika belum, tepat sekali dalam artikel ini akan dibahas secara gamblang tentang teknik penilaian. Yuk simak selengkapnya.

1. Observasi

teknik penilaian kurikulum merdeka  yang pertama ini merupakan suatu rangkaian penilaian yang dilakukan dengan pengamatan secara sistematis dan berkesinambungan terhadap sikap atau perilaku peserta didik yang muncul selama proses pembelajaran berlangsung.

Penilaian peserta didik yang dilakukan secara berkesinambungan melalui pengamatan perilaku yang diamati secara berkala baik prang guru maupun oleh antar teman sebayanya.

Observasi dapat difokuskan untuk semua peserta didik atau per individu. Observasi dapat dilakukan dalam tugas atau aktivitas rutin/harian saat pembelajaran berlangsung.

Biasanya teknik observasi ini digunakan untuk menilai kompetensi sikap dari siswa. Pendidik dapat menggunakan lembar observasi untuk melakukan penilaiannya.

2. Kinerja

Penilaian kinerja (sering disebut juga penilaian otentik) merupakan teknik penilaian multi-dimensional yang dapat dilakukan dengan penilaian tertulis,penilaian perbuatan, dan penugasan.

Penilaian yang menuntut peserta didik untuk mendemonstrasikan dan mengaplikasikan pengetahuannya ke dalam berbagai macam konteks sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Asesmen kinerja dapat berupa praktik, menghasilkan produk, melakukan projek, atau membuat potofolio.

Didalam menentukan bentuk penilaian kinerja yang tepat tergantung pada karakteristik materi yang dinilai dan kompetensi yang diharapkan harus dicapai oleh peserta didik.

Dalam teknik penilaian kinerja Keterampilan yang ditunjukkan peserta didik merupakan aspek yang akan dinilai. Penilaian terhadap keterampilan didasarkan pada kualitas kinerja peserta didik dengan target yang telah ditetapkan.

3. Projek

Kegiatan penilaian terhadap suatu tugas meliputi kegiatan perancangan pelaksanaan, dan pelaporan, yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu.

Penilaian projek dapat dilakukan secara individu maupun kelompok dengan jumlah siswa yang dapat diatur oleh guru sesuai kebutuhan. Cakupan tugas yang diberikan mulai dari perencanaa, pelaksanaan, dan pelaporan yang dapat dikerjakan pada saat pembelajaran di sekolah maupun diluar sekolah.

Terdapat 4 hal yang perlu menjadi pertimbangan guru dalam melaksanakn penilaian projek yaitu: 

  1. Pengelolaan yaitu kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan.
  2. Relevansi yaitu kesesuaian topik, data dan hasilnya dengan mata pelajaran yang ada.
  3. Keaslian produk, bahwa projek yang dilaksanakan siswa harus merupakan hasil karyanya sendiri, dengan mempertimbangkan kontribusi guru, dan pihak lain untuk mendukung projek yang dikerjakan peserta didik.
  4. Inovasi dan kreativitas yaitu projek yang dilakukan peserta didik terdapat unsur baru atau kekinian atau unik dan berbeda dari biasanya. 

4. Tes Tertulis

Tehnik penilaian dan merdekaan belajar selanjutnya yaitu tes tertulis. Tes dengan soal dan jawaban disajikan secara tertulis untuk mengukur atau memperoleh informasi tentang kemampuan peserta didik. Tes tertulis dapat berbentuk esai, pilihan ganda, uraian, atau bentuk- bentuk tes tertulis lainnya.

Penilaian tertulis lebih menekankan pada aspek kognitif siswa, atau lebih untuk mengukur siswa dalam aspek pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.


Untuk dapat menyajikan penilaian dengan tes tertulis guru perlu menyiapkan beberapa hal, diantaranya yaitu:

  • Menentukan tujuan penilaian : untuk mengetahui penguasaan materi pelajaran peserta didik setelah diajarkan, berbeda jenis dan isinya dengan tes yang memiliki tujuan mengetahui kesulitan belajar peserta didik (diagnostic test), penempatan (placement test), atau seleksi.
  • Penyusunan kisi- kisi : berbentuk matriks yang berfungsi sebagai pedoman dalam penulisan soal.
  • Perumusan indikator : Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, kompetensi, mata pelajaran, dan satuan pendidikan.
  • Penulisan soal : Di dalam pembuatan soal, pendidik memilih materi esensial. Pemilihan materi dalam penyusunan kisi-kisi hendaknya memperhatikan 4 (empat) aspek yaitu urgensi, relevansi, kontinuitas, dan keterpakaian

5. Tes Lisan

 Tes lisan merupakan salah satu bagian dari tes penilaian pengetahuan. Tes lisan dapat berupa pertanyaan-pertanyaan, perintah, kuis yang diberikan pendidik secara lisan dan peserta didik merespon pertanyaan tersebut secara lisan. Jawaban tes lisan dapat berupa kata, frase, kalimat maupun paragraf.

4. Tes Tertulis

Teknik  selanjutnya yaitu tes tertulis. Tes dengan soal dan jawaban disajikan secara tertulis untuk mengukur atau memperoleh informasi tentang kemampuan peserta didik. Tes tertulis dapat berbentuk esai, pilihan ganda, uraian, atau bentuk- bentuk tes tertulis lainnya.

Penilaian tertulis lebih menekankan pada aspek kognitif siswa, atau lebih untuk mengukur siswa dalam aspek pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.

Untuk dapat menyajikan penilaian dengan tes tertulis guru perlu menyiapkan beberapa hal, diantaranya yaitu:

  • Menentukan tujuan penilaian : untuk mengetahui penguasaan materi pelajaran peserta didik setelah diajarkan, berbeda jenis dan isinya dengan tes yang memiliki tujuan mengetahui kesulitan belajar peserta didik (diagnostic test), penempatan (placement test), atau seleksi.
  • Penyusunan kisi- kisi : berbentuk matriks yang berfungsi sebagai pedoman dalam penulisan soal.
  • Perumusan indikator : Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, kompetensi, mata pelajaran, dan satuan pendidikan.
  • Penulisan soal : Di dalam pembuatan soal, pendidik memilih materi esensial. Pemilihan materi dalam penyusunan kisi-kisi hendaknya memperhatikan 4 (empat) aspek yaitu urgensi, relevansi, kontinuitas, dan keterpakaian

5. Tes Lisan

 Tes lisan merupakan salah satu bagian dari tes penilaian pengetahuan. Tes lisan dapat berupa pertanyaan-pertanyaan, perintah, kuis yang diberikan pendidik secara lisan dan peserta didik merespon pertanyaan tersebut secara lisan. Jawaban tes lisan dapat berupa kata, frase, kalimat maupun paragraf. 

Tes lisan yakni tes yang pelaksanaannya dilakukan dengan mengadakan tanya jawab secara langsung antara pendidik dan peserta didik.

Pemberian soal/pertanyaan yang menuntut peserta didik menjawab secara lisan, dan dapat diberikan secara klasikal ketika pembelajaran.Penilaian ini sering digunakan pada ujian akhir mata pelajaran agama dan sosial

6. Penugasan

Pemberian tugas kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan dan memfasilitasi peserta didik memperoleh atau meningkatkan pengetahuan.`

Penugasan yang berfungsi untuk penilaian dilakukan setelah proses pembelajaran Sedangkan penugasan sebagai metode penugasan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan yang diberikan sebelum atau selama proses pembelajaran (assessment for learning). 

Tugas dapat dikerjakan baik secara individu maupun kelompok sesuai karakteristik tugas yang diberikan, yang dilakukan di sekolah, di rumah, dan di luar sekolah. Pada prinsipnya, penilaian melalui pendekatan penugasan adalah menilai hasil (produk).

Dari penugasan tersebut ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam penilaian pengetahuan penugasan: 

  1. perencanaan penugasan, 
  2. pelaksanaan penugasan, 
  3. acuan kualitas tugas, 
  4. instrumen, dan 
  5. hasil penilain penugasan.

Pihak yang memberikan asesmen yaitu dilakukan oleh guru.

Contoh bentuk asesmen sumatif ini bisa berupa rubrik, presentasi, poster, diorama, produk teknologi atau seni, esai, kolase, dan drama.

7. Pihak yang memberikan asesmen yaitu dilakukan oleh guru.

Contoh bentuk asesmen sumatif ini bisa berupa rubrik, presentasi, poster, diorama, produk teknologi atau seni, esai, kolase, dan drama.

Teknik penilaian dan merdekaan belajar   yang terakhir yaitu portofolio. Portofolio merupakan kumpulan dokumen hasil penilaian, penghargaan, dan karya peserta didik dalam bidang tertentu yang mencerminkan perkembangan dalam kurun waktu tertentu.

Langkah- langkah penilaian portofolio, yaitu:

  1. Jelaskan kepada peserta didik maksud penugasan portofolio. 
  2. Jelaskan sampel-sampel portofolio yang dapat digunakan.
  3.  Peserta didik diharuskan mengumpulkan dan mengarsipkan portofolio. 
  4. Cantumkan tanggal pembuatan pada setiap evidence (bukti-bukti hasil belajar)
  5.  Tentukan kriteria penilaian sampel-sampel portofolio. 
  6. Lakukan perbaikan terhadap portofolio yang belum sesuai dengan criteria

Demikian informasi mengenai Teknik Penilaian dalam Kurikulum Merdeka, semoga dapat bermanfaat.



Sabtu, 12 November 2022

perbedaan asesment formatif dan asesment sumatif dalam kurikulum merdeka


Dalam kurikulum merdeka, berdasarkan tujuannya asesmen di bagi menjadi 2 yaitu asesmen formatif dan asesmen sumatif. Asesmen dalam penerapan kurikulum merdeka bertujuan untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. 

Berikut ini perbedaan asesmen formatif dan asesmen sumatif :

Asesmen Formatif

Asesmen ini memiliki tujuan untuk memantau dan memperbaiki proses pembelajaran, serta mengevaluasi pencapaian tujuan pembelajaran. Biasanya asesmen ini dilaksanakan pada awal pembelajaran dan/atau selama proses pembelajaran berlangsung.

Dengan adanya asesmen ini, dapat mempermudah pendidik untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta didik, kesulitan atau hambatan yang dihadapi peserta didik, serta untuk memperoleh informasi perkembangan murid. Kemudian, dari informasi tersebut akan dijadikan umpan balik bagi pendidik maupun peserta didik.

Bagi peserta didik, adanya asesmen ini sangat berguna untuk berefleksi dengan memperhatikan atau memonitori kemajuan belajarnya, tantangan yang dialaminya, serta dapat mengetahui langkah – langkah yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan belajarnya. Dengan begitu ini merupakan salah satu proses belajar yang penting untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Bagi pendidik, asesmen ini juga bermanfaat untuk mempertimbangkan strategi dan model pembelajaran yang digunakan dengan menyesuaikan kebutuhan peserta didik, sera untuk meningkatkan efektivitas dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran. Melalui asesmen ini juga dapat memberikan informasi atau data kebutuhan belajar peserta didik.

Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan agar asesmen ini dapat bermanfaat bagi pendidik dan peserta didik, diantaranya sebgai berikut:

  1. Asesmen ini tidak memiliki risiko yang tinggi (High Stake) karena pada asesmen ini dirancang untuk tujuan pembelajaran dan tidak wajib digunakan untuk menentukan hasil belajar peserta didik, kenaikan kelas, kelulusan, atau keputusan – keputusan penting lainnya.
  2. Dalam penerapannya, asesmen ini dapat menggunakan berbagai model, teknik dan/atau instrumen dalam perancangannya dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas proses belajar
  3. Pelaksanaan asesmen formaif ini dapat dilaksanakan bersamaan dengan proses pembelajaran yang sedang berlangsung sehingga pembelajaran dan asesmen dapat menjadi satu kesatuan.
  4. Pelaksanaan asesmen formatif ini dapat dilakukan dengan cara yang sederhana, sehingga umpan balik hasil asesmen ini dapat diperoleh dengan cepat.
  5. Pelaksanaan asesmen di awal pembelajaran juga dapat memberikan informasi kepada pendidik tentang kesiapan peserta didik untuk belajar. Sehingga pendidik perlu menyesuaikan rencana pembelajaran agar sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
  6. Instrumen asesmen yang digunakan juga dapat memberikan informasi mengenai kekuatan, hal apa yang perlu ditingkatkan atau diperbaiki oleh peserta didik, serta dapat mengungkapkan cara untuk meningkatkan kualitas tulisan, karya, atau performa yang diberi umpan balik.

Asesmen Sumatif

Asesmen sumatif atau penilaian ini bertujuan untuk membandingkan pencapaian hasil belajar  peserta didik dengan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran yang sudah dibuat sebelumnya. Asesmen ini berbentuk laporan pencapaian hasil belajar yang berisi tentang laporan pembelajaran yang ditambahkan dengan data atau informasi mengenai pertumbuhan dan perkembangan peserta didik.

Asesmen ini biasanya dilakukan di akhir pembelajaran misalnya akhir semester, atau akhir tahun ajaran.Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam asesmen ini yaitu pendidik dapat menggunakan Teknik dan instrument yang beragam seperti tes, namun dapat dilakukan dengan observasi dan performa misalnya praktik, melakukan projek, atau membuat portofolio.

Umpan balik dari asesmen ini yaitu laporan hasil akhir pesera didik yang dapat digunkan untuk mengukur tingkat perkembangan peserta didik, dan juga dapat di jadikan panduan oleh pendidik untuk merencanakan aktivitas pada pembelajaran selanjutnya.

Penerapan asesmen pada kurikulum merdeka, pendidik dituntut untuk mengutamakan asesmen formatif. Hal ini dikarenakan untuk memperoleh umpan balik dan mengetahui perkembangan peserta didik. Namun, pendidik juga harus mengingat pentingnya asesmen sumatif karena asesmen ini juga digunakan untuk mengetahui seberapa banyak tujuan pembelajaran yang sudah dicapai.


assessment diagnosa dalam kurikulum merdeka


assessment diagnostik sangat penting dalam implementasi kurikulum merdeka karena sangat dibutuhkan untuk mnegetahui kemampuan dasar dan kondisi awal masing – masing peserta didik. Dengan begitu pendidik akan menciptakan suasana kegiatan pembelajaran yang tepat serta mempersiapkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Definisi asesmen diagnostik

Menurut Kemendikbud, Asesmen diagnostik yaitu penilaian atau asesmen kurikulum merdeka yang dilakukan secara spesifik dengan tujuan untuk mengidentifikasi atau mengetahui karakteristik, kondisi kompetensi, kekuatan, kelemahan model belajar peserta didik, sehingga pembelajaran dirancang dan disesuaikan dnegan kompetensi dan kodisi peserta didik yang beragam.

Pada dasarnya, asesmen diagnostik ini memiliki tujuan utama yakni untuk mengidentifikasi kemampuan dasar peserta didik dan mengetahui kondisi awal peserta didik. Pendidik akan melaksanakan asesmen diagnostik sesuai kebutuhan dan kebijakan setiap satuan pendidikan, misalnya pada awal tahun ajaran, pada awal lingkup materi, atau sebelum Menyusun modul ajar secara mandiri.

Tahap awal yang harus dilakukan pendidik dalam asesmen diagnostik dengan menganalisis laporan hasil belajar atau sering disebut rapor setiap peserta didik pada tahun ajaran sebelumnya. Setelah itu dapat mengidentifikasi kompetensi yang diajarkan.

Kemudian pendidik juga perlu menyusun instrumen asesmen untuk mengukur kompetensi peserta didik. Penyusunan instrumen asesmen dapat dilihat dari indicator tes tertulis maupun lisan, keterampilan dalam praktik, dan observasi. Dalam penyusunan instrument asesmen juga pendidik diberikan kebebasan untuk menentukan instrumen yang digunakan sesuai dengan karakteristik kompetensi dan tujuan asesmen.

Apabila pendidik diperlukan untuk menggali informasi peserta didik dari beberapa aspek seperti latar belakang keluarga, motivasi, minat, sarana dan prasarana pendukung belajaar, dan aspek lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik dan satuan pendidikan.

Setelah pelaksanaan asesmen diagnostik dilaksanakan, maka selanjutnya dilakukan pengolahan hasil. Hasil diagnostik ini akan menjadi data atau informasi yang akan digunakan untuk membuat rencana pembelajaran sesuai tahapan capain dan karakteristik peserta didik.

Ada 2 jenis asesmen diagnostik yaitu:

1. Asesmen Diagnotik Kognitif

Asesmen ini bertujuan untuk mengidentifikasi kemampuan dasar peserta didik pada topik sebuah mata pelajaran, menyesuaikan pembelajaran di kelas dengan kompetensi rata-rata peserta didik, dan memberikan kelas pelajaran tambahan kepada peserta didik dengan kompetensi di bawah rata-rata.

2. Asesmen Diagnotik Non-Kognitif

Asesmen ini bertujuan untuk mengukur aspek psikologis dan kondisi emosional dari setiap peserta didik sebelum pembelajaran dimulai. Asesmen ini dilakukan dalam rangka menilai aktivitas peserta didik selama belajar di rumah dengan tetap memperhatikan kondisi keluarganya. Biasanya dilakukan di awal pembelajar guna menggali data/informasi kondisi setiap peserta didik.

Pelaksanaan asesmen diagnostik di sekolah telah memberikan banyak hal yang positif, sehingga sekolah dan pendidik dapat menyesuaikan dan merancang metode, model, dan media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan kompetensi peserta didik. Hal ini akan mendorong pendidik untuk menyampaian materi capaian pembelajaran. Pandangan pendidikan di masa depan yakni dengan menghadirkan pembelajaran yang menyenagkan dan memberikan manfaat untuk mengembangkan skill atau kemampuan, karakter, dan psikomotorik peserta didik. Dengan begitu akan lebih mudah untuk merancang dasar asesmen belajar lebih lanjut.

Dengan melaksanakan asesmen diagnostik dalam kurikulum merdeka di setiap satuan pendidikan atau sekolah merupakan salah satu langkah utama sebelum menerapkan pembelajaran, sehingga pendidik dapat merancang dan menentukan strategi pembelajaran yang tepat dan disesuaikan dengan karakteristik dan kompetensi peserta didik. Dapat juga digunakan sebagai daar dalam memperikan interpretasi dan rancangan tindak lanjut berupa perlakuan (intervensi) untuk melaksanakaan pendidikan yang lebih tinggi lagi.

2 jenis Asesmen pada Pembelajaran Kurikulum Merdeka


Asesmen pada pembelajaran kurikulum merdeka merupakan rangkaian proses pengumpulan dan pengolahan informasi yang bertujuan untuk mengukur pencapaian hasil belajar pada masing-masing peserta didik.
Dengan menerapkan pembelajaran yang sesuai dengan hasil capaian peserta didik merupakan salah satu dorongan semangat dalam merdeka belajar. Hal ini akan disesuaikan dengan tingkat pencapaian dan kemampuan awal peserta didik.

Secara Umum, asesmen yaitu aktivitas yang menjadi satu kesatuan dalam proses pembelajaran, dimana melalui asesmen dilakukan untuk mencari bukti ataupun dasar pertimbangan tentang pencapaian tujuan pembelajaran. Asesemen pada kurikulum merdeka ini memiliki fungsi utama yaitu mengetahui kebutuhan, perkembangan dan pencapaian hasil belajar pada masing-masing peserta didik.

Berdasarkan hal tersebut, terdapat 2 jenis asesmen pada pembelajaran kurikulum merdeka  yaitu sebagai berikut:

1. Asesmen Formatif

Asesmen formatif ini bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik bagi peserta didik maupun pendidik untuk memperbaiki proses pembelajaran. Selain itu, asesmen ini juga mengevaluasi pencapaian yang hendak dicapai dalam tujuan pembelajaran. Pada asesmen ini juga dapat dilakukan identifikasi kebutuhan belajar peserta didik, yang dilihat dari hambatan yang dialami peserta didik, dan juga untuk memperoleh informasi perkembangan peserta didik.

  • Asesmen di awal pembelajaan, dilakukan untuk mengetahui tingkat kesiapan peserta didik untuk mempelajari materi pembelajaran dan mencapai tujuan pembelajaran yang telah direncanakan. Asesmen ini masuk dalam asesmen formatif karena ditujuan kepada guru untuk merancang kebutuhan pembelajaran peserta didik, tidak untuk keperluan penilaian hasil belajar peserta didik.
  • Asesmen di dalam proses pembelajaran, dilaksanakan selama proses pembelajaran untuk mengetahui tingkat perkembangan dan juga untuk memberikan umpan balik yang cepat kepada peserta didik. Asesmen ini biasanya dilakukan sepanjang atau di tengah proses pembelajaran. Bahkan bisa juga dilakukan di akhir pembelajaran.

2. Asesmen Sumatif

Asesmen sumatif yaitu asesmen yang dilakukan untuk memastikan ketercapaian semua tujuan pembelajaran. Biasanya asesmen ini dilakukan pada akhir proses pembelajaran atau juga dapat dilakukan dengan menggabungkan 2 atau lebih tujuan pembelajaran sekaligus, hal ini disesuaikan dengan pertimbangan masing – masing guru dan kebijakan yang ada dalam satuan Pendidikan.

Dalam penilaian capaian hasil belajar peserta didik dapat dilakukan dengan cara memebandingkan pencapaian hasil belajar peserta didik dengan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran. Pendidik juga perlu ditekankan mengenai penilaian ini, pendidik dapat menggunakan teknik dan instrument yang beragam, tidak hanya berupa tes tulis dan lisan saja namun juga dapat menggunakan observasi dan performa peserta didik yang dilihat dari kegiatan praktik, keikutsertaan projek, dan pembuatan portofolio.

Asasmen sumatif memiliki fungsi yaitu sebagai alat ukut untuk mengetahui pencapaian hasil belajar peserta didik dalam satu atau lebih tujuan pembelajaran di akhir periode tertentu, untuk mendapatkan nilai capaian hasil belajar yang akan dibandingkan dengan kriteria capaian yang telah di tentukan, dan untuk menentukan kelanjutan proses pembelajaran peserta didik di kelas atau ke jejang selanjutnya.

Perbedaan asesmen sumatif dengan asesmen formatif yaitu dapat dilihat dari perhitungan penilaian di akhir semester, atau akhir tahun ajaran, dan/atau akhir jenjang.

Dalam menerapkan asesmen dalam pembelajaran kurikulum merdeka. dapat merancang dan melaksanakan pembelajaran dan asesmen yang sesuai arah kebijakan kurikulum merdeka. Selain itu, peran pendidik juga wajib untuk memahami prinsip – prinsip asesmen. Hal ini bertujuan untuk lebih fokus pada kegiatan yang bermakna dan infromasi atau umpan balik dari asesmen mengenai kemampuan peserta didik juga lebih meningkat dan bermanfaat dalam proses perancangan proses pembelajaran selanjutnya.

pentingnya assessment dalam pembelajaran


pentingnya assessment dalam pembelajaran dan umpan balik sangat dibutuhkan dalam menunjang proses belajar siswa. Lebih banyak waktu dapat dihabiskan untuk proses pembelajaran asesmen terkait penjaminan mutu dibandingkan dengan kemungkinan mendukung minat belajar siswa. Hal ini tentu menjadi tantangan bagi guru dan keduanya perlu didamaikan. Artinya asesmen dapat dilaksanakan dengan baik dan hasilnya dapat menunjang perkembangan siswa.


pentingnya assessment dalam pembelajaran diantaranya lantaran berfungsi sebagai bahan untuk menentukan kemampuan dan kesulitan pada saat itu dan mengidentifikasi apa yang benar-benar diperlukan untuk pembelajaran. Berdasarkan hasil asesmen, guru dapat merancang program pembelajaran yang sesuai dengan realitas siswa.

Kegiatan pembelajaran harus mempertimbangkan tiga proses: perencanaan pembelajaran, pelaksanaan, dan evaluasi. Rencana pembelajaran merupakan langkah awal agar penyampaian pembelajaran lebih efektif dan lancar, sehingga kegiatan pembelajaran diikuti dengan asesmen keberhasilan pembelajaran.

Asesmen adalah proses memperoleh informasi dalam beberapa bentuk yang digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan tentang siswa, baik yang berkaitan dengan kurikulum, program studi, iklim sekolah, dan kebijakan sekolah. Hasil asesmen juga menjadi pedoman bagi guru.

Asesmen adalah upaya untuk memperoleh data atau informasi dari proses dan hasil pembelajaran untuk menguji seberapa baik kinerja siswa, kelas, kursus atau program terkait dengan tujuan, kriteria atau prestasi pembelajaran tertentu. Setelah menerima hasil evaluasi, maka dilakukan proses evaluasi.

Grading adalah proses penyematan atribut, dimensi, atau besaran dalam bentuk angka atau huruf pada hasil grading dengan membandingkannya dengan peralatan standar tertentu. Hasil evaluasi berupa atribut, dimensi, kuantitas dijadikan sebagai bahan evaluasi. Evaluasi adalah proses mengasosiasikan status, keputusan, atau peringkat dengan skor dan skor.  

Pentingnya assessment dalam pendidikan

Asesmen dalam pendidikan berfungsi sebagai bahan untuk menentukan kemampuan dan kesulitan pada saat itu dan mengidentifikasi apa yang benar-benar diperlukan untuk pembelajaran. Berdasarkan hasil asesmen, guru dapat merancang program pembelajaran yang sesuai dengan realitas siswa.

Guru harus mampu merancang asesmen yang baik agar dapat mengukur dengan jelas kemajuan siswa dan sebagai sarana untuk melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan. 

Manfaat asesmen

assessment dalam pembelajaran karena  memberikan berbabai manfaat yang tidak hanya dirasakan oleh siswa, tetapi juga memudahkan guru untuk melihat tingkat dan keberhasilan kegiatan belajar mengajar yang diselesaikan dalam waktu tertentu. Setidaknya ada dua fungsi evaluasi yang harus Anda ketahui, fungsi format dan fungsi sumatif.

Ada berbagai teknik asesmen yang dapat digunakan Guru di dalam kelas, teknik pengujian kertas dan pensil, kinerja siswa dalam menyelesaikan pekerjaan rumah, pekerjaan rumah di laboratorium dan juga aktivitas siswa selama proses asesmen pembelajaran. Semua informasi yang diterima Guru dari asesmen kemudian akan dianalisis untuk kepentingan laporan kemajuan siswa.

Asesmen juga dapat meningkatkan efektivitas kegiatan belajar mengajar dan meningkatkan pemahaman siswa dari waktu ke waktu. Perencanaan asesmen yang baik juga menciptakan lingkungan kelas yang baik.

Idealnya, guru harus memiliki tujuan yang mendukung pembelajaran aktif, daripada hanya berfokus pada asesmen pembelajaran tanpa menetapkan aturan bagi siswa untuk menangani asesmen atau asesmen mereka sendiri. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang evaluasi, Anda juga perlu mengetahui fungsi dan tujuannya.

Kegiatan asesmen selalu didefinisikan dengan tiga istilah, yaitu mengukur, mengevaluasi dan memeriksa. Apakah ketiganya memiliki tujuan yang berbeda dalam proses evaluasi. Tes adalah alat asesmen atau metode yang telah dirancang untuk memenuhi tujuan yang telah ditetapkan.

Sedangkan pengukuran adalah proses pemberian angka atau usaha untuk mendapatkan gambaran numerik sejauh mana seorang siswa telah mencapai karakteristik tertentu. Hasil evaluasi dapat berupa nilai kualitatif dan kuantitatif. Dan evaluasi adalah proses penentuan kualitas hasil pengukuran dengan membandingkan hasil pengukuran dengan beberapa kriteria.